Sungguh saya tak ingin menafsirkan hidup, cinta atau semacamnya. Hidup sudah rumit, tak usahlah di bikin berbelit-belit. Toh, hidup akan tetap seperti itu. Tak pernah bisa diartikan absolut sebagai sesuatu. Hidup tidak bisa didefinisikan mutlak sebagai ini atau sebagai itu. Ya, kalaupun saya menulis ini, ya cuma ingin membicarakannya saja. Untuk kenyamanan, atau mungkin sekadar gaya-gayaan. No more!
Suatu kali, seseorang teman saya, laki-laki (barangkali kita butuh gender demi melayani nafsu interpretasi ) saya singgung soal pacar. Kebetulan saat itu dia sedang tidak punya pacar. Biasalah… keuntungan orang yang sudah merasa punya pacar adalah bisa merasa ‘lebih’ ketimbang yang belum punya pacar. Pokoknya gaya-lah ketimbang yang belum punya pacar. Dia kemudian bilang “kandidat sih banyak, bingung aja yang mana yang kudu diseriusin”. Teman saya memang agak hebat, dalam hal kuantitas kandidat. Dia kemudian menyebut, dua, tiga hingga beberapa nama.
Saya pun kemudian berpikir, tidak dengan niat menolong teman tapi –sekali lagi, sekadar gaya-gayaan. Hidup kan kudu gaya, di segala tempat, segala hal dan segala cuaca (Hidup Gaya!). Agak lama kemudian saya keceplosan bilang; Ya udah seriusin aja semuanya. Biar serius yang memilih.
Saya tidak peduli, benar atau salah apa yang telah saya bilang kepada teman saya. Apalagi, mengharapkan kata-kata itu jadi solusi, benar-benar saya tidak peduli. Yang terpenting, kata-kata saya agak nyastra sedikit, rumit hingga terdengar bijaksana. Itu saja!
Adasaja yang mungkin akan mengatakan saya terlampau biadab untuk menganjurkan demikian, meski saya bisa bilang saya tidak menganjurkan. Atau saya dinilai tak lagi kenal kemurnian cinta dan semacamnya. Saya cuma bisa bilang bahwa kadangkala kita harus membiarkan kecelakaan sejarah bicara. Jika teman saya serius terhadap semuanya, toh nanti seriusnya akan sama-sama berhadapan. Dan kemudian sejarah-lah yang menentukan ‘serius’ mana yang menang. Tergantung kebetulan, itu tepatnya.
Apakah kemudian teman saya akan mengkhianati keseriusannya? Perkara berkhianat menjadi sangat problematik, ketika dia dihadapkan kepada ‘keseriusan’ yang lain (seperti saya bilang tadi, ada banyak ‘serius’ yang dipilih teman saya). Ketika seperti itu, apakah dia berkhianat terhadap ‘serius’, bila ia sendiri membela ‘serius’ yang lain?
Perkara berkhianat pada akhirnya adalah problem bawaan ‘serius yang kalah’ dalam praktik. Oleh karenanya ia mencari kemenangan di taraf konseptual dengan mengatakan seseorang telah berkhianat. Pengkhianatan adalah buruk tentu saja. Yang menang tentu saja adalah orang yang dikhianati, di tahap konseptual. Tapi apakah ia menjadi masalah bagi ‘serius yang dimenangkan’? Tentu saja tidak.
Saya tidak kejam, kalau boleh bermain bahasa, katakanlah saya cuma berusaha realistis melihat permasalahan teman saya. Dan tentu saja, akan terasa bodoh bila saya melayani perdebatan kejam atau tidak kejam. Bagi saya, hidup berani adalah berkata tidak pada penggunaan nilai-nilai. Dan semua kata-kata di dunia bisa mengalaminya; cinta, kejam, biadab, juga angkuh. Hanya orang bodoh yang menggunakan itu, dan lucunya untuk membodoh dirinya sendiri.
Kemarin-kemarin, saya dihadapkan dengan nilai-nilai. Katanya, saya freaky, angkuh, keras kepala dan semacamnya. Saya mungkin menjadi orang yang tidak termaafkan dengan itu semua. Bila saya mempunyai kesadaran yang buruk mungkin saya akan menggumam “syukur, ada yang mengingatkan saya yang angkuh” atau jika nurani agama saya lagi bicara “alhamdulillah, dosa saya berkurang karena ada yang ngomongin saya” (Begitulah cara agama memanjakan kita, lucu memang).
Namun, saya lebih suka mengira bahwa semua itu sekadar bahan untuk mencari obrolan semata, sekadar objek pembahasan semata waktu itu. Lepas dari waktu itu hingga tiba suatu saat kala saya berguna untuk mereka, maka saya akan dibilang ‘baik’ atau bahkan dewa fortuna.
Jadi, yang tidak termaafkan bukanlah angkuh atau keras kepalanya saya. Yang tidak termaafkan justru adalah jika saya tenggelam dengan ungkapan-ungkapan bodoh itu. Ungkapan-ungkapan yang muncul justru karena saya sudah tidak bisa lagi dipahami. Ungkapan yang muncul sebab kepentingan yang sudah berlawanan; kepentingan saya dengan kepentingan orang lain.
Berani tidak menutupi kepentingan memang rumit tidak kepalang. Berani mengemukakan bahwa kita egois adalah susah. Padahal egois sama sekali tidak salah. Mungkin, orang yang menyalahkan orang lain egois adalah pengecut yang menutupi ego-nya sendiri. Dia sedang bermain dengan harapan (dan harapan selalu merupakan konsep abstrak).
Dengan men-cap orang lain egois dia berharap tampil sebagai seorang yang tidak egois. Karena ‘egois’ ada dengan keberadaan ‘tidak egois’. Dia berharap mengambil keuntungan dari dialektika nilai atau struktur oposisi biner tatabahasa (di tingkat teoretis, kritik keuntungan inilah yang sukar dihindari oleh strukturalis). Menyebalkan memang.
Namun perihal memberi ucapan menyebalkan sama sekali tak berguna. Lebih baik diam dan segera tinggalkan. Jika tidak, saya akan sama seriusnya dengan mereka! Kenapa harus repot mengidentifikasi diri kita, memangnya diri kita ada? Anatman, kata Buddha. Tapi orang mungkin butuh waktu memahami ucapan Buddha itu. Sederhananya, mungkin diri kita ada, sayangnya, tiap ada ia selalu ditambahi dengan dusta. Siapa yang rela percaya pada dusta?