Shubuh

August 21st, 2008 by holynyavita

Akhirnya aku menulis lagi, disini…(seringkali aku menulis di www.holyrafika.blogspot.com.)
Apa ya…hmm, gak ada deh. Aku sendiri bingung mau nulis apa (so ngapain ngabisin waktu disini? just looking around pal!)

16 February 2007 :

March 26th, 2007 by holynyavita

Seseorang pria bertanya kepada pria yang lain. “Aku tidak tahu apa yang bisa membuatku disukai perempuan?”. Temannya menjawab, “Pernah wanita bilang kepadaku, ia akan memberikan sukanya pada pria yang cuek dan bisa membuatnya tertawa?”. “Hanya begitu?”. “Ya, Cuma itu!”.

“Tak heran jika Plato dan mungkin Muhammad menilai mereka setengah manusia”. “Dan jangan heran, jika kita; para pria; manusia yang selengkapnya, bernilai seperempat manusia saja”. “Kenapa?”. “Bilamana kita melayani kemauan manusia yang hendak jadi setengah”. “Lalu?”. “Maka jadilah manusia, itu saja!”

Ojo Ngono

February 5th, 2007 by holynyavita

Aku mau maca koran, tulisan nganggo aran "berwisata ke rumah masa depan". We lha Jebule berita soal pemakaman. Ning pemakamane spesial, ono kelase, ono regane dhewe-dhewe. Ono sing sak kavlinge rego 40 juta. Diancuk nJaran!. Urip wis susah, mati wae yo digawe susah. 

Dunyo-dunyo…

Wong ono ngono lho awake dhewe isih mikir sir-siran, mikir sing werno-werno ra ono guno! Ketiwasan!

5 Februari 2006: Sekali Lagi, Konspirasi Nilai

February 5th, 2007 by holynyavita

Suatu saat, saya hadir dalam kuliah etika filsafat komunikasi. Sekelompok mahasiswa mempresentasikan kasus pembajakan/pelanggaran HAKI dari aspek legal. Aspek legal ialah kala etika dipandang dari hukum, benar salah tergantung hukum. Pada akhirnya, jelas bahwa pembajakan adalah sebuah perbuatan yang tidak etis.

            Saya bukan tidak sepakat dengan gagasan tersebut sepanjang kelompok tadi memang membutuhkan gagasan tersebut hanya karena perintah dosen, meski saya kira kelompok tadi bisa saja melawan dosen. Hanya saja, hukum menjadi alat yang problematis saat etika juga problematis.

            Di China, pembajakan tidak dilarang. China tidak menyepakati kesepakatan internasional soal HAKI, karena aturan HAKI –mungkin, belum dibutuhkan oleh China dalam konteks hubungan global. HAKI adalah penjajahan jenis baru, dimana ketergantungan menjadi senjata. Dengan aturan itu, hanya negara penemu yang menjadi negara maju dan negara penemu adalah negara berteknologi tinggi.

            Orang boleh meninjau paragraph di atas sebagai ‘terlalu konspiratif’. Tidak semua orang suka konspirasi, termasuk saya. Dan saya membutuhkan sebuah upaya problematisasi yang lain.

Karya intelektual sekarang diposisikan sebagai sebuah hal yang meminta syarat orisinalitas. Masalahnya, adakah yang orisinalitas karya di dunia ini? Atau orisinalitas hanya sebuah pembahasaan yang oleh karenanya meminta suatu subjek (entah institusi, kekuasaan atau hal yang lain) untuk melegitimasi sesuatu sebagai ‘yang orisinal’?

             Dengan begitu, apakah orang yang mengaku mempunyai karya yang tidak orisinal bisa dianggap orisinal?. Sangat bisa. Cukup dekati subjek yang membahasakan atau melegitimasi orisinalitas itu, maka karya itu bisa menjadi orisinal.

Sekali lagi, hukum tidak dibuat untuk mensejahterakan sekalian alam. Hukum hanya dibuat sebagai perlindungan segolongan orang yang berkepentingan agar hukum itu ada. Marx mungkin membahasakannya sebagai kapital.

5 February 2007: Kejelasan

February 5th, 2007 by holynyavita

Kejelasan menjadi hal yang paling berharga katanya. Hukum, filsafat, ilmu, cinta juga manusia katanya butuh kejelasan –butuh dijelaskan. Dengan kejelasan, kesepahaman akan didapatkan. Seakan di dalam kesepahaman ada cahaya yang luar biasa. Bagi pagi,temaram senja, juga bagi dunia. Ketidakjelasan kemudian dilupakan. Dan orang semakin lupa bahwa sepanjang seseorang tidak dipahami, semakin orisinal-lah ia.

4 February 2007: Orang Jenius

February 5th, 2007 by holynyavita

Bilamana orang dapat disebut jenius? Aristoteles akan menjawab orang jenius adalah orang yang mampu membuat kategori-kategori. Kita dapat bertanya kembali kepadanya; mengapa membuat kategori-kategori?

Kemudian dari mulut romanticism kita akan mendengar bahwa jenius adalah perihal melampaui batas-batas. Tetapi bagaimana melampaui batas-batas itu? Kita akan tahu, sepanjang apa yang tidak enak menurut romantic itulah batas-batas (termasuk naluri Aristoteles). Jadi apakah jenius kemudian adalah sebatas khayalan orang romantic?

Apapun jawaban Aristoteles, entah logis atau tidak, tidak ada hubungannya dengan kategori-kategorinya. Juga demikian halnya bagi orang-orang romantic, jawaban mereka tak ada hubungannya dengan batas-batas. Namun kita dapat memastikan sebuah hubungan yang pasti namun tersamar, antara jawaban-jawaban itu dengan diri Aristoteles dan orang-orang romantic yang mencoba mempertahankan pendapatnya.

Jenius, dalam konteks ini, berarti berkaitan dengan perihal menghadapi kritik. Bukan logis atau tidaknya jawaban, tetapi bagaimana jawaban tersebut mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kritik sesudah jawaban itu dinyatakan. Jawaban seorang jenius, bukan hanya yang menjawab pertanyaan, tapi juga melampaui semua kemungkinan kritik terhadap jawaban itu.

Namun tidak berarti seorang jenius adalah seorang yang terobsesi mengatasi kritik, sepanjang kritik adalah penguasaan orang lain terhadap pernyataannya.

Kritik, tidak lain dan tidak bukan, lahir dari pernyataan. Tak ada kritik yang lahir dengan dirinya sendiri. Kritik butuh kendaraan. Kendaraan itu adalah pembatasan-pembatasan oleh mulut kita sendiri. Oleh karenanya, lebih jauh, seorang jenius adalah ia yang mampu mengatasi diri sendiri. Jika sudah begitu, mungkin jawabannya sederhana; musnahkan dialektika!

February 4, 2007 : Hidup

February 5th, 2007 by holynyavita

Bangun pagi hari, Saya meneruskan membaca tulisan tentang Spinoza dan Leibniz. Dan, seperti dulu saja, saya belum  mendapatkan apa-apa. Paling-paling ungkapan Spinoza bahwa kehidupan pasti punya suatu alasan atau Leibniz yang sibuk menerangkan relativisme waktu-ruang yang kemudian mungkin dilawan Voltaire. Beberapa hal yang menjadi pertanyaan saya adalah ; mengapa kita harus mempunyai alasan untuk berada di dunia? Apakah hidup tanpa alasan adalah sesuatu yang sudah tentu muram? Apakah kita sanggup menilai hidup?

            Seorang yang hidup barangkali akan sulit menilai hidup, karena ia sendiri masih hidup. Mana mungkin ia menjawab jika ia sendiri menjadi masalahnya, bahkan merupakan objeknya. Sedang orang yang mati, yang kehilangan hidup, sayangnya juga tak bisa menilai hidup.

            Hidup juga bukan berarti untuk hidup. Jika seseorang masih mengatakan untuk hidup sebagai tujuan, ia dengan sengaja menganggap dirinya tidak hidup. Dan pastilah orang yang tidak hidup tak akan bisa bicara soal kehidupan.

31 Januari 2007 : Tatabahasa

February 5th, 2007 by holynyavita

Kadang saya ingin membaca Al-quran. Kitab Islam itu. Cuma ingin? Mungkin, tapi banyak lagi yang menyebabkan saya demikian. Kecelakaan sejarah. Saya tidak bisa bilang bahwa saya berharap ampunan dosa dengan membacanya. Saya juga kurang bisa memahami isinya, meski saya masih bisa sedikit mengartikannya. Saya pun tidak tahu apakah ia mempunyai makna berlapis atau tidak. Jangan-jangan, berlapis atau tidak maknanya adalah karena anggapan kita saja? Saya benar-benar tidak tahu.

            Perihal tuhan adalah perihal tatabahasa. Selama ada tatabahasa, tuhan tak mungkin terbuang. Dan selama itu pula, orang bisa memilih atheis atau tidak atheis sepanjang ia mampu memperkosa tatabahasa untuk meyakinkan dirinya sendiri –juga orang lain, pada pilihannya.

28 Januari 2007 : Diri

February 5th, 2007 by holynyavita

Sungguh saya tak ingin menafsirkan hidup, cinta atau semacamnya. Hidup sudah rumit, tak usahlah di bikin berbelit-belit. Toh, hidup akan tetap seperti itu. Tak pernah bisa diartikan absolut sebagai sesuatu. Hidup tidak bisa didefinisikan mutlak sebagai ini atau sebagai itu. Ya, kalaupun saya menulis ini, ya cuma ingin membicarakannya saja. Untuk kenyamanan, atau mungkin sekadar gaya-gayaan. No more!

Suatu kali, seseorang teman saya, laki-laki (barangkali kita butuh gender demi melayani nafsu interpretasi ) saya singgung soal pacar. Kebetulan saat itu dia sedang tidak punya pacar. Biasalah… keuntungan orang yang sudah merasa punya pacar adalah bisa merasa ‘lebih’ ketimbang yang belum punya pacar.  Pokoknya gaya-lah ketimbang yang belum punya pacar. Dia kemudian bilang “kandidat sih banyak, bingung aja yang mana yang kudu diseriusin”. Teman saya memang agak hebat, dalam hal kuantitas kandidat. Dia kemudian menyebut, dua, tiga hingga beberapa nama.

Saya pun kemudian berpikir, tidak dengan niat menolong teman tapi –sekali lagi, sekadar gaya-gayaan. Hidup kan kudu gaya, di segala tempat, segala hal dan segala cuaca (Hidup Gaya!). Agak lama kemudian saya keceplosan bilang; Ya udah seriusin aja semuanya. Biar serius yang memilih.

Saya tidak peduli, benar atau salah apa yang telah saya bilang kepada teman saya. Apalagi, mengharapkan kata-kata itu jadi solusi, benar-benar saya tidak peduli. Yang terpenting, kata-kata saya agak nyastra sedikit, rumit hingga terdengar bijaksana. Itu saja!

Adasaja yang mungkin akan mengatakan saya terlampau biadab untuk menganjurkan demikian, meski saya bisa bilang saya tidak menganjurkan.  Atau saya dinilai tak lagi kenal kemurnian cinta dan semacamnya. Saya cuma bisa bilang bahwa kadangkala kita harus membiarkan kecelakaan sejarah bicara. Jika teman saya serius terhadap semuanya, toh nanti seriusnya akan sama-sama berhadapan. Dan kemudian sejarah-lah yang menentukan ‘serius’ mana yang menang. Tergantung kebetulan, itu tepatnya.

Apakah kemudian teman saya akan mengkhianati keseriusannya? Perkara berkhianat menjadi sangat problematik, ketika dia dihadapkan kepada ‘keseriusan’ yang lain (seperti saya bilang tadi, ada banyak ‘serius’ yang dipilih teman saya). Ketika seperti itu, apakah dia berkhianat terhadap ‘serius’, bila ia sendiri membela ‘serius’ yang lain?

Perkara berkhianat pada akhirnya adalah problem bawaan ‘serius yang kalah’ dalam praktik. Oleh karenanya ia mencari kemenangan di taraf konseptual dengan mengatakan seseorang telah berkhianat. Pengkhianatan adalah buruk tentu saja. Yang menang tentu saja adalah orang yang dikhianati, di tahap konseptual. Tapi apakah ia menjadi masalah bagi ‘serius yang dimenangkan’? Tentu saja tidak.

Saya tidak kejam, kalau boleh bermain bahasa, katakanlah saya cuma berusaha realistis melihat permasalahan teman saya. Dan tentu saja, akan terasa bodoh bila saya melayani perdebatan kejam atau tidak kejam. Bagi saya, hidup berani adalah berkata tidak pada penggunaan nilai-nilai. Dan semua kata-kata di dunia bisa mengalaminya; cinta, kejam, biadab, juga angkuh. Hanya orang bodoh yang menggunakan itu, dan lucunya untuk membodoh dirinya sendiri.

Kemarin-kemarin, saya dihadapkan dengan nilai-nilai. Katanya, saya freaky, angkuh, keras kepala dan semacamnya. Saya mungkin menjadi orang yang tidak termaafkan dengan itu semua. Bila saya mempunyai kesadaran yang buruk mungkin saya akan menggumam “syukur, ada yang mengingatkan saya yang angkuh” atau jika nurani agama saya lagi bicara “alhamdulillah, dosa saya berkurang karena ada yang ngomongin saya” (Begitulah cara agama memanjakan kita, lucu memang).

Namun, saya lebih suka mengira bahwa semua itu sekadar bahan untuk mencari obrolan semata, sekadar objek pembahasan semata waktu itu.  Lepas dari waktu itu hingga tiba suatu saat kala saya berguna untuk mereka, maka saya akan dibilang ‘baik’ atau bahkan dewa fortuna.

Jadi, yang tidak termaafkan bukanlah angkuh atau keras kepalanya saya. Yang tidak termaafkan justru adalah jika saya tenggelam dengan ungkapan-ungkapan bodoh itu. Ungkapan-ungkapan yang muncul justru karena saya sudah tidak bisa lagi dipahami. Ungkapan yang muncul sebab kepentingan yang sudah berlawanan; kepentingan saya dengan kepentingan orang lain.

Berani tidak menutupi kepentingan memang rumit tidak kepalang. Berani mengemukakan bahwa kita egois adalah susah. Padahal egois sama sekali tidak salah. Mungkin, orang yang menyalahkan orang lain egois adalah pengecut yang menutupi ego-nya sendiri. Dia sedang bermain dengan harapan (dan harapan selalu merupakan konsep abstrak).

Dengan men-cap orang lain egois dia berharap tampil sebagai seorang yang tidak egois. Karena ‘egois’ ada dengan keberadaan ‘tidak egois’. Dia berharap mengambil keuntungan dari dialektika nilai atau struktur oposisi biner tatabahasa (di tingkat teoretis, kritik keuntungan inilah yang sukar dihindari oleh strukturalis). Menyebalkan memang. 

Namun perihal memberi ucapan menyebalkan sama sekali tak berguna. Lebih baik diam dan segera tinggalkan. Jika tidak, saya akan sama seriusnya dengan mereka! Kenapa harus repot mengidentifikasi diri kita, memangnya diri kita ada? Anatman, kata Buddha. Tapi orang mungkin butuh waktu memahami ucapan Buddha itu. Sederhananya, mungkin diri kita ada, sayangnya, tiap ada ia selalu ditambahi dengan dusta. Siapa yang rela percaya pada dusta?

Sejarah, Subjek dan Objektifikasi

January 28th, 2007 by holynyavita

Man ‘Arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu

-barang siapa yang mengetahui dirinya,

                            maka ia telah mengetahui tuhannya

Demikian ujar Imam Ali RA. Kata tersebut biasanya dimaknai bahwa penemuan diri atau subjek adalah dilema terpelik umat manusia. Ali, dengan nasihat tersebut, mengemukakan bahwa pengetahuan tentang diri sama peliknya dengan pengetahuan tentang Tuhan. Ali dalam konteks ini, menurt saya, sangat bisa dituduh sama dengan Hallaj atau Syekh Siti Jenar dalam hal menyamakan tuhan dengan manusia. Hanya saja, Ali mungkin lebih beruntung, saya kira (?).

Ali, Hallaj atau Syekh Lemah Abang tidak sendiri.

Ada

banyak manusia yang terus mencari tahu bagaimana manusia itu. Di daratan eropa, banyak filsuf mencoba mempertanyakannya. Salah satunya adalah Nietzsche, yang jika disodori ujaran itu hanya akan menunjuknya sebagai dilemma tataran esensial yang tak berkesudahan, dilemma metafisika. Jadi, jalan satu-satunya; tolak saja metafisika! Manusia tidak akan diberi apapun oleh metafisika, bahkan pengertian mengenai keberadaan manusia itu di dunia. Nalar seperti inilah pangkal jalan memahami

gaya

Nietzschean, barisan dimana Michel Foucault berdiri.

Foucault dan Nietszche, menurut saya, dalam beberapa hal adalah sama (Dreyfus bahkan berani bilang dalam Being & Power bahwa Nietszche, Heidegger juga Foucault mempunyai pola pemikiran yang sama). Penolakan keduanya kepada metafisika mempunyai implikasi penting pada

gaya

mereka; mendorong filsafat masuk ke area historis. Pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti halnya moralitas/etika (Nietszche) dan subjek (Foucault), harus menjadi pertanyaan arkeologis-genealogis.

Foucault menulis ; My objective…has been to create a history of the different modes by which, in our culture, human beings are made subject. Pilihan menggali sejarah manusia membuat subjek, pada akhirnya membuat Foucault mendudukkan subjek sebagai bukan producer, tetapi sebagai produk. Disini Foucault bergandengan tangan dengan Nietszche sebagai eksistensialis yang antihumanis (bandingkan dengan Nietzsche dalam Genealogi of Moral ketika ia mengajukan kritik kepada Dr. Ree) . Keduanya jelas lebih bersabar ketimbang Sartre yang terburu bernafsu mempergulatkan subjek dengan wacana-wacana esensial; kesadaran dan kebebasan dsb. Dari sini, kita mendapatkan satu hal bahwa definisi subjek dalam perspektif pemikiran Foucault adalah subjek adalah produk.

Subjek sebagai produk mengakibatkan Foucault tertarik kepada power dan knowledge di awal penyelidikannya. Ia, menurut saya, menerjemahkan dengan baik, apa yang dimaksud Nietzsche sebagai “‘kebaikan’ yang membuat orang berbuat baik” dalam Genealogy of Moral. Foucault, mengungkapkan ‘kebaikan’ itu sebagai discourse yang di dalamnya tidak lagi terdapat will to power-nya Nietzsche, tapi power-knowledge (atau power knowledge adalah will to power bentuk baru?).

Bagaimana kemudian subjek dalam hubungannya dengan power-knowledge?

“Zarathrusta telah banyak berkata pada kita para perempuan, tapi ia tak pernah berkata pada kita tentang perempuan”. Dan aku jawab dia:”Seseorang harus bicara tentang perempuan hanya pada lelaki”

Dalam kalimat inilah kita temukan perspektif Foucault melihat masalah subjek ini. Disinilah, saya kira definisi subjek kemudian menjadi lebih teknis; ‘sebuah hasil objektifikasi’. Subjek menjadi subjek bila terdapat predikat. Dan predikat menyangkut cara predikasi. Sedang masalah predikasi adalah gerakan sejarah/diskursus yang menjadi rumah bagi power-knowledge.